Cooking for Love

Wawancara dengan Pemandu Acara “Cooking for Love”, Sarah Benjamin dan Nik Imran

Baik Anda suka memasak atau hanya suka makanan, serial “Love to Cook” yang dipersembahkan oleh Panasonic Cooking dan Asian Food Channel (AFC) akan menghibur dan menginspirasi Anda, dimulai Oktober ini dengan musim ketiga Cooking For Love.

Setelah menonton Sarah dan Nik memasak selama dua musim – mari cari tahu pendapat keduanya terhadap satu sama lain, apakah mereka bertentangan atau memang cocok?

Alasan saya mulai memasak…

Sarah: Saya mulai memasak sejak kecil karena saya suka perasaan bisa mengumpulkan keluarga dan memberi mereka makanan yang belum pernah mereka coba atau makanan yang mereka ingat dari masa kecil, serta melihat senyuman di wajah mereka. Saat saya menyadari masakan saya bisa membawa kebahagiaan, saya langsung terpikat!

Nik: Ayah saya yang seorang koki sering memasak di rumah untuk keluarga dan kawan, sementara saya akan membantunya menyiapkan meja dan menjadi ruan rumah untuk malam tersebut. Seiring saya kian terbiasa dengan dapur, dia akan terus menambahkan tugas untuk saya hingga saya mulai membuat Crepes Suzette untuk pesta makan malam seperti ini. Itu yang membuat saya masuk ke dapur!

Apa arti memasak bagi saya?

Sarah: Bagi saya, memasak berarti mengetahui secara tepat apa yang seseorang ingin makan dan menyajikannya dengan tepat. Ada banyak koki makanan mewah di sana yang berfokus untuk menunjukkan bahan-bahan serta teknik baru mereka, dan walaupun saya sangat menyukai teknik memasak seperti itu, bukan itu yang saya lakukan. Saya berfokus pada mencari tahu hidangan yang cocok untuk suatu acara, lalu membuat semua orang datang ke meja makan untuk makan bersama.

Nik: Kemurahan hati. Itu tentang memberikan sebagian dari diri Anda dalam setiap hidangan. 

Sarah Benjamin
Apa tipe hidangan yang suka saya buat?

Sarah: Saya berasal dari keluarga berlatar belakang multikultural, dan suka bepergian serta mencicipi makanan baru, jadi, saya suka banyak sekali hidangan berbeda! Saya gemar mencapurkan beragam kultur dalam masakan saya, namun jika harus mencari inspirasi, pasti adalah makanan Nyonya atau Peranakan. Saya memandang makanan Peranakan sebagai hidangan ‘campuran’ asli, memadukan cita rasa serta teknik hidangan Malaysia dan China, jadi, saya suka mempelajari dan bereksperimen dengan jenis hidangan itu di dapur.

Nik: Ini adalah pertanyaan yang sulit. Saya suka semuanya! Hidangan Asia Tenggara, Italia, Prancis, Amerika, Meksiko, China, Jepang, semuanya adalah hidangan yang luar biasa. Namun jika harus memilih satu hidangan untuk saya masak selama sisa hidup saya, jawabannya adalah hidangan Malaysia. Terutama makanan jenis ‘kampung’.

Nik Imran
Apa makna “Love To Cook” bagi Anda?

Sarah: Saya suka berada di dapur, memasak dan membuat resep baru. Namun bagi saya, “Love to Cook” punya arti lebih dari itu. Cinta memasak berarti memberi cinta pada makanan demi orang yang akan saya beri makanan itu. Bisa keluarga, teman, atau bahkan orang-orang baru. Dalam Cooking For Love, saya telah memasak untuk beberapa keluarga yang ingin merayakan bersama, dan saat bisa merasakan ada cinta di antara mereka, saya harus memberi cinta pada makanan yang dibuat karena saya ingin mereka merasakannya.

Nik: Dalam acara kami Cooking For Love, Sarah dan saya akan saling berhadapan untuk menciptakan hidangan terbaik bagi tamu kami, tapi yang akan menang di setiap akhir adu masak (walaupun kami super kompetitif satu sama lain) adalah tamu kami yang menikmatinya. Terkadang itu hidangan yang mengingatkan kenangan masa kecil, atau sinergi antara hidangan-hidangan kami, tapi yang terpenting, selama pestanya sukses, kami suka untuk memasak.

Satu bahan yang saya suka dan akan pakai di setiap hidangan, jika bisa!

Sarah: Jika saya hanya bisa memilih satu bahan untuk dipaka di setiap hidangan, saya mungkin akan memilih… telur! Telur sudah pasti bahan yang paling serba guna – telur penting dalam sarapan, telur juga dasar untuk kue dan es krim, dan saat kita membuat hidangan utama gurih yang lezat, menambahkan telur goring atau telur rebus dengan kuning telur masih cair keemasan yang indah bisa membawa hidangannya ke tingkatan yang baru.

Nik: Saya yakin kecintaan seorang koki pada satu bahan atau hidangan biasanya terpengaruh oleh suasana hati mereka. Bisa berupa makanan cepat saji pada satu hari atau hidangan berbintan Michelin pada hari lainnya. Saat ini, musim Durian Musang King hamper berakhir di Malaysia dan saya amat menginginkannya. Saya akan segera kembali, saya ingin mencari durian!

Nik Imran & Sarah
Seperti apa rasanya bekerja sama selama bertahun-tahun dan apakah kalian benar-benar saingan atau sahabat selamanya?

Sarah: Bekerja dengan Nik selalu sangat menyenangkan, dia seperti adik kecil yang selalu saya inginkan. Kami memiliki banyak kesamaan, terutama makanan! Tapi kami selalu punya banyak hal untuk dibicarakan saat istirahat, entah itu tempat liburan yang menakjubkan, acara TV atau hanya menonton video YouTube yang konyol bersama. Pada hari pesta, kami berfokus untuk memasak sampai semua makanan disajikan, sehingga rasa persaingan selalu datang saat itu.

Nik: Saya suka bekerja dengan Sarah. Dia hampir seperti saudara kandung yang tidak pernah saya miliki dan karena usia kami sama dan tumbuh di era ‘90an yang sama, kami merasa sangat terhubung. Saya pikir ada rasa persaingan, tapi dia tidak kompetitif seperti saya, jadi, itu hanya perasaan saya!

Siapa yang akan membawa pulang mahkotanya untuk musim ini?

Sarah: Kami tak begitu memperhatikan nilainya karena kami menjalani tiap pesta sebagai acara yang terpisah dan saya tahu Nik merasakan hal yang sama dengan saya saat saya berkata bahwa kami selalu berkonsentrasi memasak hidangan yang terbaik untuk para keluarga itu dalam momen tiap-tiap pesta.

Nik: Saya berharap akan seri lagi, jadi, ini akan mengakhiri musim secara seimbang dan mendorong munculnya pendapat dari tamu-tamu kami karena itu adalah bagian terpenting dalam keseluruhan acara, bukan sisi kompetisinya.

Lebih Banyak Fitur